Suara Hati Seorang Ayah

DENGARKAN SUARA-SUARA BERIKUT:
Suara Hati Seorang Ayah

















"Aku terperangkap dalam rutinitas yang menjemukan!"
"Aku tak punya kehidupan. Tenagaku habis—capek sekali!"
"Tak seorang pun menghargaiku. Bosku tak tahu apa sesungguhnya
yang bisa kuperbuat!"

Aku merasa tak diperlukan—di tempat kerja, tidak; oleh anak-anakku
yang mulai remaja dan dewasa pun tidak; tak juga oleh tetangga dan
masyarakat sekitarku; bahkan tak juga oleh pasangan hidupku—kecuali
untuk membayar berbagai tagihan!"
Aku frustrasi dan loyo, tak bersemangat."

"Penghasilanku tak pernah cukup. Rasanya aku tidak pernah bergerak maju!"
"Sepertinya aku memang tak bisa."
Aku merasa tak berarti; ada atau tidak, rasanya tak ada bedanya
bagi sekelilingku!"
Aku merasa hampa. Hidupku tidak bermakna; ada sesuatu yang hilang!"
Aku marah. Aku takut. Aku tak sanggup menanggung kehilangan
pekerjaanku!"
Aku kesepian."
"Aku merasa diburu-buru terus.'Semuanya serba mendesak."
"Duniaku terasa serba pengap; aku merasa terus didikte untuk perkara
yang remeh-temeh."
'Aku muak dengan politik di kantor yang suka menikam dari belakang,
dan menjilat-jilat."
'Aku bosan. Paling-paling aku hanya bisa melewatkan waktu. Kepuasan
justru kutemukan di luar jam kerja."
"Aku dipacu untuk meraih target produksi. Tekanannya sungguh tak
terbayangkan. Aku sama sekali tak punya waktu dan sumber daya untuk
mencapainya."
"Dengan pasangan hidup yang tak bisa memahamiku, dan anak-anak
yang tidak mau mendengar dan menaatiku, rumah tidak lebih baik daripada
tempat kerja."
Aku tak bisa mengubah keadaanku."


Post By

Stephen R. Covey

0 Response to "Suara Hati Seorang Ayah"

Post a Comment